Renungan Harian Kristen – Tidak Memanjakan Diri

renungan harian kristen

Betapa berartinya kebangkitan Yesus bagi keselamatan umat manusia, juga bagi kemuliaan Allah atau kemenangan surga. Kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa Ia telah menunaikan tugas penyelamatan dengan sukses. Keberhasilan-Nya tersebut ditentukan oleh ketaatan-Nya kepada Allah Bapa di surga (Ibr. 5:7). Kalau Yesus tidak taat, Ia tidak akan mengalami kebangkitan. Ia tetap ada dalam kubur dalam kematian kekal. Dan kalau Yesus tidak dibangkitkan, tidak akan ada kebangkitan bagi kita. Kalau tidak ada kebangkitan, berarti semua orang tetap di dalam kubur atau di Hades (1Kor. 15:13-14). Ini berarti bencana terbesar, sebab ini menunjukkan kemenangan Lusifer. Lusifer berhasil meraih niatnya menjadi penguasa.

Kebangkitan – Kehidupan

Kalau tidak ada kebangkitan, berarti tidak ada kehidupan. Ini juga berarti semua rancangan Allah untuk menjadi Allah orang yang hidup bisa gagal, sebab Dia bukan Allah orang mati (Mat. 22:32). Tidak bisa dibayangkan bagaimana keadaan kalau tidak ada kebangkitan, sehingga Bapa bukan menjadi Allah orang yang hidup sebab semua manusia, bahkan Yesus sendiri, mati. Dampaknya pula, tidak ada langit baru dan bumi yang baru. Ini berarti manusia tidak mempunyai harapan sama sekali (1Kor. 15:19). Seandainya Yesus tidak dibangkitkan, rencana Allah menciptakan kehidupan menjadi gagal. Dalam hal ini, kita mengerti mengapa Lusifer dikatakan sebagai pembunuh. Pembunuh berarti mengambil kehidupan atau membinasakan kehidupan. Apa yang dikerjakan atau diupayakan Iblis bertolak belakang dengan yang diperjuangkan oleh Yesus. Yesus datang untuk memberi “hidup” atau kehidupan (Yoh. 10:10).

Kemenangan Yesus

Dalam perjuangan menyelamatkan manusia, Yesus telah berhasil. Kemenangan-Nya memberi pengharapan kepada seluruh makhluk bumi dan surga. Dengan kemenangan-Nya, maka ada kehidupan. “Kehidupan” di sini maksudnya manusia bisa menjadi makhluk yang hidup kembali dengan berdaging. Tubuh berdaging dengan kualitas tinggi yang disebut tubuh kemuliaan yang telah ditampilkan oleh Yesus di depan murid-murid-Nya pasca kebangkitan-Nya. Kebangkitan inilah yang menjadi pengharapan Paulus, sehingga ia rela menjalani apa pun supaya ia beroleh kebangkitan (Flp. 3:10-11). Rupanya, kebangkitan dari antara orang mati adalah pengharapan kuat yang juga memotivasi Paulus menjalani hidup ini. Hal ini sesuai dengan apa yang juga ditulis oleh Petrus dalam suratnya, bahwa kita sebagai anak-anak Allah beroleh hidup penuh pengharapan (1Ptr. 1:3-4). Pengharapan yang dimaksud Alkitab adalah pengharapan di Kerajaan Tuhan yang akan datang.

Jadilah Teladan

Bagian dari keteladanan yang ditampilkan Yesus dalam kisah penyaliban itu juga berbicara bagaimana Paulus rela melepaskan kesenangan demi pelayanan bagi Tuhan. Paulus pernah berkata kepada anak rohaninya Timotius, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1Tim. 6:8). Implikasi ayat ini menyuarakan panggilan terhadap semua orang percaya untuk tidak membiarkan dirinya terbuai oleh berbagai kesenangan pribadi lebih dari kecintaannya terhadap pelayanan bagi Tuhan. Paulus tidak melarang orang mendapatkan berbagai fasilitas hidup, tetapi ia mengajak atau menganjurkan agar orang tidak menginginkan lebih dari apa yang ia butuhkan. Paulus membuktikan kebenaran pernyataan-pernyataan di dalam hidupnya, sampai ia menghadapi martirnya di Roma. Ia bukan hanya berbicara, melainkan juga melakukan apa yang dikatakan. Dengan demikian, ia dapat menjadi teladan bagi orang percaya.

Seorang pengikut Kristus yang sejati harus dapat menjadi teladan atau contoh bagi kehidupan umat Allah yang lain. Ini berarti, kehidupan seorang anak Allah akan terbelenggu oleh tugas pelayanannya bagi Yesus. Belenggu itu adalah kebenaran Firman Allah yang harus dikenakan dalam hidupnya secara konkret, sehingga ia bisa menjadi pola dengan mana orang membangun dirinya. Misalnya, terdapat Firman yang mengatakan, “Asal ada makanan dan pakaian cukup.” Bagi pelayan jemaat atau seorang pendeta, mereka harus terlebih dahulu dapat melakukan kebenaran ini sebelum mereka mengajarkannya kepada orang lain. Untuk ini, seorang pelayan jemaat harus dapat terlebih dahulu meninggalkan dunia.,

Toleransi

Dalam kehidupan setiap hari sebagai umat pilihan, kita harus memiliki toleransi atau fleksibilitas yang tinggi terhadap keadaan dunia sekitar. Kita harus bisa tidur di tempat panas atau dingin, mengenakan pakaian berapa pun harganya asal pantas, dan lain sebagainya. Kita tidak boleh memanjakan diri kita sendiri. Bila kita memanjakan diri kita sendiri, kita tidak dapat menjadi pelayan Tuhan yang lentur dan fleksibel beradaptasi dengan dunia sekitar. Harus diingat, bahwa Yesus tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Ini berarti bahwa hal menikmati kesenangan harus ditinggalkan. Orang percaya harus berani tidak memiliki standar hidup seperti orang lain. Standar hidup kita adalah Yesus. Kita harus berani meninggalkan hidup dalam kewajaran seperti manusia lain. Ini bukan berarti membuat gaya hidup orang percaya menjadi “nyentrik.” Sebagai anak Allah, kita harus berusaha memiliki kehidupan yang kelihatannya sama dengan orang lain, tetapi sebenarnya di dalamnya berbeda.

Sumber: https://www.rehobot.org/beranda_renungan/tidak-memanjakan-diri/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *